cara mendeteksi kandungan unsur hara dalam tanah
Untukkekurangan senyawa nitrogen dalam nutrisi manusia dan hewan. Semua tanaman membutuhkan pasokan yang cukup dari macronutrients untuk pertumbuhan yang sehat, dan nitrogen (N) adalah nutrisi yang umumnya dalam persediaan terbatas. Nitrogen kekurangan tanaman dapat terjadi ketika bahan organik dengan kandungan karbon tinggi, seperti serbuk
Alatuji tanah merupakan alat-alat uji yang digunakan untuk menguji kualitas tanah, seberapa baik tanah digunakan untuk lahan pertanian, perkebunan, bangunan, jalan, jembatan dan berbagai aplikasi yang membutuhkan monitoring dan pengukuran kualitas tanah.Pengukuran yang bisa dilakukan meliputi mengukur daya dukung tanah, kepadatan tanah, temperatur tanah, kelembaban tanah, kandungan unsur hara
KandunganHara Kompos yang baik mengandung unsur hara makro Nitrogen > 1,5 % , P2O5 (Phosphat) > 1 % dan K20 (Kalium ) > 1,5 %, disamping unsur mikro lainnya. C/N ratio antara 15-20, diatas atau dibawah itu kurang baik. Untuk kepentingan bisnis, pupuk kompos yang dihasilkan harus mempunyai kualitas yang ajek dan supply yang berkesinambungan.
tentangpentingnya mengetahui unsur hara apa saja yang ada di dalam tanah dan kegunaan dari setiap unsur hara tersebut bagi tanaman. Gambar 5. Halaman Data Pupuk Pada halaman ini terdapat beberapa kolom seperti pupuk, fungsi, kandungan hara, cara pemakaian, dan terakhir terdapat juga gambar yang berguna memperjelas bentuk dari pupuk yang akan
BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Tanaman melon (Cucumis melo L) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang sering dikonsumsi oleh masyarakat. Melon merupakan tanaman buah-buahan semusim yang mempunyai rasa manis, tekstur daging buah yang renyah, warna buah yang bervariasi dan mempunyai aroma yang khas, melon juga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dalam pemasaran dan produksi benihnya.
nhóm cá thể nào dưới đây là một quần thể. Palm oil fronds is one of the wastes originating from the oil palm industry which are difficult to decompose. The right decomposer application is one of the success keys, if the oil palm fronds are processed into compost hence the expected quality of compost is achieved. This research aim was to determine the quality of oil palm fronds compost with Trichoderma harzianum and cow dung application based on N, P, K nutrients content, C-organic and C/N compost ratio. The research design used was factorial complete randomized design, the first factor was cow dung 0 kg, 1 kg, and 2 kg and the second factor was Trichoderma harzianum 0 g, 50 g, and 100 g. Research observations included compost temperature, compost pH, N, P, K, C-organic, and C/N compost ratios. The results showed that the application of cow dung, Trichoderma harzianum and their interactions had no significant effect on N, P, K nutrient content, C-organic, and C/N compost ratios, as a whole, the observed compost characteristics met compost criteria based on SNI 7030-200. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Sakiah Uji Kadar Hara Nitrogen, Fosfor, dan .... Jurnal AIP Volume 7 No. 2│ Oktober 2019 87-95 Uji Kadar Hara Nitrogen, Fosfor, dan Kalium pada Kompos Pelepah Kelapa Sawit dengan Pemberian Trichoderma harzianum dan Kotoran Sapi Study of Nitrogen, Phosphorus, and Potassium Nutrients Content in the Compost of Oil Palm Fronds with the Application of Trichoderma harzianum and Cow Dung Sakiah1*, Muhammad Yusuf Dibisono1, Susanti1 1 Program Studi Budidaya Perkebunan, STIPER Agrobisnis Perkebunan STIP-AP, Jl Williem Iskandar/Pancing, Medan. 20222, 2 Fakultas Pertanian, Universitas Al Wasliyah UNIVA, Jl. Sisingamangaraja KM. 5,5 No. 10 Harjosari I, Medan, 20147 E-mail sakiah ABSTRACT Palm oil fronds is one of the wastes originating from the oil palm industry which are difficult to decompose. The right decomposer application is one of the success keys, if the oil palm fronds are processed into compost hence the expected quality of compost is achieved. This research aim was to determine the quality of oil palm fronds compost with Trichoderma harzianum and cow dung application based on N, P, K nutrients content, C-organic and C/N compost ratio. The research design used was factorial complete randomized design, the first factor was cow dung 0 kg, 1 kg, and 2 kg and the second factor was Trichoderma harzianum 0 g, 50 g, and 100 g. Research observations included compost temperature, compost pH, N, P, K, C-organic, and C/N compost ratios. The results showed that the application of cow dung, Trichoderma harzianum and their interactions had no significant effect on N, P, K nutrient content, C-organic, and C/N compost ratios, as a whole, the observed compost characteristics met compost criteria based on SNI 7030-200. Keywords compost, national standard, quality DOI Diterima 23 April 2019 / Disetujui 12 September 2019 / Diterbitkan 15 Oktober 2019 PENDAHULUAN Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan primadona masyarakat Indonesia, hal ini ditunjukkan dengan semakin luasnya perkebunan kelapa sawit nasional. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan, luas lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 12,3 juta hektar dan produksi tandan buah segar TBS 35,3 juta ton. Meningkatnya luas lahan perkebunan kelapa sawit diiringi dengan meningkatnya volume limbah yang dihasilkan, salah satunya yaitu pelepah yang bersumber dari hasil pruning penunasan tanaman kelapa sawit. Jurnal Agro Industri Perkebunan Jurnal AIP Volume 7 No. 2│ Oktober 2019 87-95 Penunasan merupakan upaya untuk mengatur jumlah pelepah yang perlu dipertahankan atau yang tinggal di pohon. Penunasan bertujuan untuk menjaga keseimbangan fisiologis tanaman dan sanitasi, memperlancar penyerbukan, memudahkan panen dan pengamatan matang panen, menghindari tersangkutnya brondolan di ketiak pelepah, dan mempermudah pembersihan piringan dan pemupukan Sutarta et al., 2003. Tanaman kelapa sawit mengeluarkan 18-30 pelepah setiap tahunnya, dimana 8-22 pelepah diantaranya terdapat buah dan lainnya tidak menghasilkan buah. Rerata pelepah yang dipotong setiap panen kelapa sawit adalah 1-3 pelepah jadi setiap bulannya ada 2-4 pelepah yang harus dipotong dengan bobot 5,40 kg per pelepah Darmosarkoro, 2012. Pelepah hasil penunasan dipotong menjadi 3 bagian, kemudian disusun di gawangan mati. Khusus pada areal bergelombang-berbukit pelepah disusun searah dengan kontur atau tegak lurus dengan arah lereng. Penunasan pelepah dilaksanakan dengan rotasi 10-12 bulan sekali Sutarta et al., 2003. Adanya penumpukan pelepah di sela-sela tanaman kelapa sawit khususnya di gawangan mati beberapa perkebunan kelapa sawit berpotensi menjadi sarang/inang bagi hama dan penyakit seperti beberapa jenis hama ulat dan kumbang pemakan daun, tikus, bahkan ular. Jenis-jenis penyakit utama kelapa sawit disebabkan oleh Ganoderma, Pythium, dan Rhizoctonia Risza, 2010. Kandungan unsur hara pada pelepah kelapa sawit yaitu N 2,6-2,9 %; P 0,16-0,19 %; K 1,1-1,3 %; Ca 0,5-0,7 %; Mg 0,3-0,45 %; S 0,25-0,40 %; Cl 0,5-0,7 % Syahfitri, 2008. Komponen penyusun terbesar pelepah kelapa sawit adalah holoselulosa 72,67 %; alfaselulosa 36,74 %; lignin 21,39 % dan pentosan 22,19 % Darmosarkoro, 2012. Berbagai penelitian telah dilakukan dalam usaha memaksimalkan pemanfaatan pelepah kelapa sawit antara lain sebagai bahan baku pakan ternak Rizali, Fachrianto, Ansari, & Wahdi, 2018, bahan baku briket arang Sarwono, Adinegoro, & Widarti, 2018, bahan baku bioethanol Rilek, Hidayat, & Sugiarto, 2017, bahan dasar produk bergaya etnik Andansari, Cahyadi, & Marlang, 2013, dan bahan baku kompos Yuniati, 2014 yang secara keseluruhan masih dalam proses penyempurnaan. Pelepah kelapa sawit berpotensi besar untuk dijadikan sebagai bahan baku pupuk kompos, namun karena bahan penyusun pelepah kelapa sawit terdiri dari bahan yang sulit terdekomposisi maka dibutuhkan perlakuan khusus untuk mempercepat proses dekomposisi pelepah kelapa sawit. Kompos berbahan baku pelepah kelapa sawit yang dihasilkan Yuniati 2014 menunjukkan hasil analisa kompos, rata-rata C-organik 40-41 %, kadar N 1,27-1,43 % dan rasio C/N 28,01–32,72. Berdasarkan SNI Kompos 19-7030-2004 bahwa nilai C-organik dan rasio C/N kompos belum sesuai kriteria SNI Kompos. Maka pada penelitian ini dilakukan pengomposan pelepah kelapa sawit menggunakan jamur Trichoderma harzianum serta kotoran sapi segar sebagai dekomposer. Trichoderma harzianum merupakan cendawan yang mempunyai aktivitas antagonistik yang tinggi terhadap cendawan patogen tular tanah. T. harzianum dapat diisolasi dari berbagai macam tanah dan dari permukaan akar tanaman serta dari kayu busuk atau serasah Suwahyono & Sakiah Uji Kadar Hara Nitrogen, Fosfor, dan .... Jurnal AIP Volume 7 No. 2│ Oktober 2019 87-95 Wahyudi, 2004. Beberapa spesies Trichoderma telah dilaporkan sebagai agen hayati seperti T. harzianum, T. viridae dan T. koningii yang berspektrum luas pada tanaman pertanian. Biakan jamur Trichoderma diberikan ke areal pertanaman dan berlaku sebagai biodekomposer, serta dapat berlaku sebagai biofungisida yang berperan mengendalikan organisme patogen penyakit tanaman. Mengingat peran T. harzianum yang sangat besar dalam menjaga kesuburan tanah dan menekan populasi jamur patogen, T. harzianum memiliki potensi tinggi sebagai kompos aktif juga sebagai agen pengendali organisme patogen Herlina & Dewi, 2010. Keunggulan dalam penggunaan jamur T. harzianum adalah selain jamur ini bisa menghasilkan enzim yang dapat memecah selulosa menjadi glukosa, jamur ini juga dapat digunakan sebagai biofungisida yang ramah lingkungan karena tidak menimbulkan pencemaran atau berdampak negatif pada lingkungan melainkan dapat mengembalikan keseimbangan alamiah dan kesuburan tanah Soesanto, 2004. Agar penguraian pelepah kelapa sawit dapat efektif, maka dalam penelitian ini kotoran sapi segar diberikan sebagai sumber mikroba lainnya. Kotoran sapi mengandung mikroba yang berperan dalam dekomposisi hingga dapat menjadi kompos. Mikroba tersebut yaitu mikroba lignolitik, mikroba selulolitik, mikroba proteolitik, mikroba lipolitik, mikroba aminolitik, dan mikroba fiksasi nitrogen Sriatun, Hartutik, & Taslimah, 2009. Mikroba lignolitik yang terkandung dalam kotoran sapi berfungsi untuk memecah ikatan lignin menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga dekomposisi bahan organik menjadi lebih cepat Setiawan, 2010. Penelitian ini bertujuan untuk menguji mutu kompos pelepah kelapa sawit dengan pemberian T. harzianum dan kotoran sapi ditinjau dari kadar C-organik, kadar N, kadar P, kadar K, dan rasio C/N kompos. METODE PENELITIAN Penelitian berlangsung sejak April 2018 hingga Agustus 2018, pengomposan dilaksanakan di rumah kaca STIPER-Agrobisnis Perkebunan, dan pengujian sampel dilakukan di laboratorium Riset dan Teknologi Universitas Sumatera Utara. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Faktor pertama adalah kotoran sapi S terdiri dari 3 taraf yaitu S0= tanpa kotoran sapi, S1= kotoran sapi 1 kg dan S2= kotoran sapi 2 kg. Faktor kedua yaitu Trichoderma harzianum T terdiri atas 3 taraf yaitu T0= tanpa Trichoderma harzianum, T1= Trichoderma harzianum 50 g, dan T2= Trichoderma harzianum 100 g. Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 27 satuan percobaan. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan digunakan uji F pada taraf 5%. Apabila terdapat pengaruh nyata terhadap parameter yang diamati, maka setiap perlakuan dibandingkan dengan menggunakan uji Beda Nyata Jujur BNJ pada taraf 5%. Jurnal Agro Industri Perkebunan Jurnal AIP Volume 7 No. 2│ Oktober 2019 87-95 Bahan yang digunakan adalah pelepah kelapa sawit yang berasal dari kebun praktek STIP-AP Medan. Jamur T. harzianum berasal dari Balai Proteksi Tanaman Hortikultura Sumatera Utara, kotoran sapi berasal dari Dusun 1 Tambak, Pasar 1 Rejo, Kec. Percut Sei Tuan. Alat yang digunakan yaitu timbangan, mesin pencacah, ember, thermometer, pH meter, spektrometer, buret dan alat-alat laboratorium pendukung lainnya. Adapun proses pengomposan yang dilakukan yaitu pelepah kelapa sawit dari bagian rachis batang tempat munculnya daun dan leaflets daun yang masih segar dicincang dengan ukuran 1-2 cm menggunakan mesin pencacah. Pelepah yang digunakan untuk satu perlakuan 4 kg, secara keseluruhan dibutuhkan 14 pelepah. Selanjutnya dilakukan pengaplikasian jamur T. harzianum dan kotoran sapi sesuai dengan perlakuan. Jamur T. harzianum yang digunakan adalah yang dibiakkan pada media jagung dengan masa inkubasi 7 hari, kerapatan T. harzianum 106. Aplikasi dekomposer dilakukan dengan mencampur terlebih dahulu T. harzianum dengan kotoran sapi dan diinkubasi selama 2 hari, kemudian dicampurkan dengan pelepah kelapa sawit yang telah dicacah dan dimasukkan ke dalam ember pengomposan. Bahan kompos yang telah dicampur diberi air untuk melembabkan bahan. Pembalikan kompos dilakukan 1x seminggu, pengomposan berlangsung selama 8 minggu. Pengamatan terhadap suhu dan kelembaban kompos dilakukan satu kali seminggu. Suhu kompos diukur dengan termometer dan kelembaban kompos diukur dengan cara meremas kompos. Jika ada air yang menetes dari kompos menandakan bahwa kadar air kompos berlebih, tapi jika kompos terlalu kering maka ditambahkan air hingga kondisi kompos lembab. Pemanenan kompos dilakukan setelah 8 minggu pengomposan dengan kriteria kompos berwarna coklat kehitaman, remah, dan tidak berbau. Selanjutnya diambil sampel kompos dari setiap perlakuan dan ulangan. Kompos diambil dari bagian atas, tengah dan bawah lalu dijadikan satu. Pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu suhu kompos diamati setiap minggu selama 8 minggu menggunakan termometer, pH diamati setiap minggu selama 8 minggu menggunakan pH meter pocket, C-Organik dianalisis dilaboratorium menggunakan metode Walkley and Black, kadar N dianalisis dengan metode Kjeldahl, P dianalisis dengan metode Spectrofotometry, dan K dianalisis dengan metode Flamefotometry. Rasio C/N merupakan hasil pembagian kadar C-organik dengan kadar N. HASIL DAN PEMBAHASAN Suhu kompos Suhu kompos selama 8 minggu pengomposan disajikan pada Tabel 1. Selama proses pengomposan suhu rata-rata pada minggu pertama hingga minggu kedelapan antara 33o C hingga 36o C. Suhu pada pengomposan tidak mencapai fase termofilik 45o C-65o C, hal ini disebabkan Sakiah Uji Kadar Hara Nitrogen, Fosfor, dan .... Jurnal AIP Volume 7 No. 2│ Oktober 2019 87-95 tumpukan kompos tidak mencapai tinggi tumpukan kompos yang optimum yaitu 1-2,2 m. Suhu diawal pengomposan 35o C dan pada akhir pengomposan 33o C, ini menunjukkan adanya aktivitas mikroba dalam mendekomposisi bahan organik sehingga menghasilkan energi dalam bentuk panas, CO2 dan uap air Asyeerem, 2012. Selama proses pengomposan dilakukan pengadukan seminggu sekali pada setiap perlakuan dengan tujuan untuk meningkatkan aerasi. Pembalikan timbunan kompos membantu pencampuran dan pelonggaran serta aerasi timbunan, dan menurunkan secara perlahan hingga stabil Sutanto, 2002. Stabilnya suhu diduga karena seluruh tumpukan kompos sudah mengalami fase pendinginan dan kematangan yang ditandai dengan turunnya temperatur dari temperatur puncak menuju kestabilan Indrawaty, 2017. Tabel 1. Rataan suhu kompos pelepah kelapa sawit dengan pemberian kotoran sapi dan T. harzianum Keterangan MSP = minggu setelah pengomposan Nilai pH kompos Rataan pH kompos pelepah kelapa sawit dengan pemberian kotoran sapi dan T. harzianum selama 8 minggu terdapat pada Tabel 2. Rataan pH kompos pada minggu ke-1 dan ke-2 berkisar 8,2-8,3 selanjutnya menurun pada setiap minggunya. Kenaikan pH dapat disebabkan karena adanya aktivitas mikroorganisme yang menguraikan bahan organik. Nilai pH kompos yang naik menunjukkan bahwa adanya amonia dan aktivitas mikroba yang mempengaruhi kenaikan pH kompos Komarayati, Mustaghfirin, Sofyan, 2018. Pada minggu ke-3 sampai dengan minggu ke-8, rataan pH kompos menurun hingga berkisar 7,3-7,8. Penurunan pH kompos dikarenakan terjadinya proses perombakan bahan organik dan menghasilkan senyawa asam sehingga menyebabkan pH menurun Pulungan, Lubis, Zahara, & Fairuzah, 2017. Jurnal Agro Industri Perkebunan Jurnal AIP Volume 7 No. 2│ Oktober 2019 87-95 Tabel 2. Rataan pH kompos pelepah kelapa sawit dengan pemberian T. harzianum dan kotoran sapi Keterangan MSP = minggu setelah pengomposan Kadar C-Organik, kadar N, rasio C/N, kadar P, dan K kompos Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian kotoran sapi S dan Trichoderma harzianum T serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap kadar C-organik, kadar N, kadar P, kadar K, dan rasio C/N kompos pelepah kelapa sawit. Rataan kadar C-organik, kadar N, kadar P, kadar K, dan rasio C/N kompos pelepah kelapa sawit dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Rataan kadar C-Organik, N, P, K dan rasio C/N kompos Kadar C-organik, N, P, K dan rasio C/N kompos pelepah kelapa sawit berpengaruh tidak nyata pada semua perlakuan. Hal yang sama pada pembuatan kompos pelepah kelapa sawit menggunakan dekomposer MOL yang terbuat dari jeruk, mangga, nanas, dan pepaya menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada pengamatan rasio C/N, pH dan rendemen kompos Surya & Suyono, 2013. Demikian juga dengan pengomposan pelepah daun kelapa sawit menggunakan dekomposer indegenous diambil dari tumpukan pelepah di lapangan, diperolah jenis Trichoderma asperellum, dekomposer komersil juga menunjukkan kadar C, N, P, K rasio C/N, dan pH tidak Sakiah Uji Kadar Hara Nitrogen, Fosfor, dan .... Jurnal AIP Volume 7 No. 2│ Oktober 2019 87-95 berbeda nyata antar perlakuan Yuniati, 2014. Pada proses pengomposan, karbon dibutuhkan oleh mikroba sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya dan nitrogen untuk sintetis protein Hidayati et al., 2011. Namun, kemampuan mikroba dekomposer dapat terhambat perkembangannya oleh sulitnya bahan kompos didekomposisi. Bahan utama kompos pada penelitian ini adalah pelepah kelapa sawit, yang mana penyusun pelepah kelapa sawit berasal dari bahan yang sulit terdekomposisi seperti holoselulosa, alfaselulosa, lignin dan pentosan Darmosarkoro, 2012. Nilai rerata kadar komponen kimia pada pelepah sawit varietas tenera menurut bagiannya dari pangkal, tengah, ujung berturut-turut dengan rerata lignin 20,7%, 18,95 %, 16,69%, holoselulosa 81,57 %, 80,33 %, 79,24 % dan alfaselulosa 44,57 %, 43,56 %, 43,26 % Arpinaini, Sumpono, & Yahya, 2017. Faktor yang membatasi pertumbuhan mikroba adalah kadar nitrogen dan bahan dasar kompos yang mempunyai rasio C/N yang besar Hidayati et al., 2011. Proses dekomposisi baik secara aerob maupun anaerob akan menghasilkan hara dan humus, proses bisa berlangsung jika tersedia N, P dan K. Penguraian berlangsung cepat apabila perbandingan antara kadar C-organikNPK dalam bahan terurai setara 3010,10,5 Gaur, 1980. Standar Kualitas Kompos Mengacu pada standar kualitas kompos berdasarkan SNI 19-7030-2004, kadar C-organik, N, P, K, dan rasio C/N kompos dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Kulitas kompos pelepah kelapa sawit berdasarkan SNI 19-7030-2004 Berdasarkan SNI 19-7030-2004, kompos yang dihasilkan pada penelitian ini memenuhi standar kualitas kompos ditinjau dari kadar C-organik, N, P, K serta rasio C/N kompos. Kompos merupakan salah satu pupuk organik yang memiliki fungsi kimia yang penting seperti penyedia unsur hara makro dan mikro meskipun jumlahnya relatif sedikit, meningkatkan kapasitas tukar kation KTK tanah dan dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam yang meracuni tanaman seperti Al, Fe dan Mn Hidayati et al., 2011. Mikroba aktif yang terdapat dalam kompos juga dapat berperan dalam meningkatkan ketersediaan unsur hara. Unsur hara makro pada pupuk kandang yang ditambahkan dalam proses pengomposan, diduga hanya sebagian saja yang dipergunakan oleh bakteri pengurai. Sisa unsur makro yang tidak dimanfaatkan oleh bakteri tetap bercampur pada kompos, yang selanjutnya berfungsi sebagai penambah unsur hara dalam kompos Jurnal Agro Industri Perkebunan Jurnal AIP Volume 7 No. 2│ Oktober 2019 87-95 yang dihasilkan Yuniati, 2014. Selain itu, Trichoderma sp. yang juga dimanfaatkan sebagai dekomposer dapat membentuk simbiosis mutualisme dengan tanaman karena kemampuan strain Trichoderma untuk berkembang biak dan fungsinya dalam mengontrol patogen akar Harman, Howell, Viterbo, Chet, & Lorito, 2004. KESIMPULAN Pemberian kotoran sapi dan Trichoderma harzianum pada pengomposan pelepah kelapa sawit berpengaruh tidak nyata terhadap kadar C-organik, N, P, K dan rasio C/N kompos. Bahan dasar kompos sangat mempengaruhi hasil pengomposan. Mengacu pada SNI 19-7030-2004, kadar C-organik, N, P, K, dan rasio C/N kompos yang dihasilkan telah memenuhi standar mutu kompos. DAFTAR PUSTAKA Andansari, D., Cahyadi, D. & Marlang, H. A. 2013. Pemanfaatan limbah pelepah kelapa sawit untuk bahan dasar pembuatan produk fungsional bergaya etnik Dayak di Kalimantan Timur. Seminar Nasional Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi pp. 44-49. Sekolah Tinggi Teknologi Nasional. Arpinaini, A., Sumpono, S., & Yahya, R. 2017. Studi komponen kimia pelepah sawit varietas tenera dan pengembangannya sebagai modul pembelajaran kimia. PENDIPA Journal of Science Education, 11, 1-11. Asyeerem, F. 2012. Pemanfaatan agen hayati Trichoderma dan bakteri pada pengomposan Ageratum conyzoides, Thitonia diversifolia Hemsley. A. Gray dan ampas tebu. Jurnal Agrotek 33, 15-24. Darmosarkoro, W. 2012. Integrasi Sawit Sapi dan Energi. Medan Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Gaur, A. 1980. A manual of Rural Composting. Project Field Document No 15. United Nations Food and Agriculture Organization. Harman, G. E., Howell, C. R., Viterbo, A., Chet, I., & Lorito, M. 2004. Trichoderma species—opportunistic, avirulent plant symbionts. Nature reviews microbiology, 21, 43-56. Sriatun, S., Hartutik, S., & Taslimah, T. 2009. Pemanfaatan Limbah Penyulingan Bunga Kenanga sebagai Kompos dan Pengaruh Penambahan Zeolit terhadap Ketersediaan Nitrogen Tanah. Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi, 121, 17-22. Herlina, L. & Dewi, P. 2010. Penggunaan kompos aktif trichiderma harzianum dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman cabai. Sains dan Teknologi, 11-17. Hidayati, Y. A., Kurnani, T. B. A., Marlina, E. T., & Harlia, E. 2011. Kualitas Pupuk Cair Hasil Pengolahan Feses Sapi Potong Menggunakan Saccharomyces cereviceae Liquid Fertilizer Quality Produced by Beef Cattle Feces Fermentation Using Saccharomyces cereviceae. Jurnal Ilmu Ternak, 112, 104-107. Indrawaty, V. 2017. Pengaruh Penggunaan Urin Sebagai Sumber Nitrogen Terhadap Bentuk Fisik dan Unsur Hara. Jambi Universitas Jambi. Sakiah Uji Kadar Hara Nitrogen, Fosfor, dan .... Jurnal AIP Volume 7 No. 2│ Oktober 2019 87-95 Komarayati, S., Mustaghfirin, M., & Sofyan, K. 2018. Kualitas Arang Kompos Limbah Industri Kertas dengan Variasi Penambahan Arang Serbuk Gergaji The qualities of Compost Charcoal Manufactured from Paper-mill Waste with Varying Addition of Charcoal Sawdust. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis, 52, 78-84. Pulungan, M. H., Lubis, L., Zahara, F., & Fairuzah, Z. 2014. Uji efektifitas Trichoderma harzianum dengan formulasi granular ragi untuk mengendalikan penyakit jamur akar putih Rigidoporus microporus Swartz Fr. Van Ov pada tanaman karet di pembibitan. Agroekoteknologi, 22, 497-512. Rilek, N. M., Hidayat, N., & Sugiarto, Y. 2017. Hidrolisis Lignoselulosa Hasil Pretreatment Pelepah Sawit Elaeis guineensis Jacq menggunakan H2SO4 pada Produksi Bioetanol. Industria Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, 62, 76-82. Risza, S. 2010. Masa depan perkebunan kelapa sawit Indonesia. Yogyakarta Kanisius. Surya, R. E., & Suyono. 2013. Pengaruh pengomposan terhadap rasio C/N kotoran ayam dan kadar hara NPK tersedia serta kapasitas tukar kation tanah. Unesa Journal of Chemistry, 21, 137-144. Rizali, A., Fachrianto, F., Ansari, M. H., & Wahdi, A. 2018. pemanfaatan limbah pelepah dan daun kelapa sawit melalui fermentasi Trichoderma sp. sebagai pakan sapi potong. EnviroScienteae, 141, 1-7. Samudro, G., Syafrudin, S., & Sujiwo, B. 2012 Pemanfaatan lumpur aktif dan EM4 sebagai aktivator dalam proses pengomposan limbah kulit bawang dengan sludge. Jurnal Presipitasi Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan, 92, 51-63. Sarwono, E., Adinegoro, M. B., & Widarti, B. N. 2018. Pengaruh variasi komposisi batang, pelepah, dan daun tanaman kelapa sawit terhadap kualitas briket bioarang. Teknologi Lingkungan, 21, 11-22. Setiawan, B. 2010. Membuat Pupuk Kandang Secara Cepat. Jakarta Penebar Swadaya. Soesanto, L. 2004. Ilmu Penyakit Pasca Panen. Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Yogyakarta Kanisius. Sutarta, E. S., W. Darmosarkoro, D. Asmono, A. Susanto, S. Prawirosukarto., R. Y. Purba & P. Purba. 2003. Pemeliharaan Tanaman Kelapa Sawit Menghasilkan. Dalam P. P. Sawit, Budidaya Kelapa Sawit hal. 6-3;6-4. Medan Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Suwahyono, U. & Wahyudi, P. 2004. Penggunaan Biofungisida pada Usaha Perkebunan. Dipetik Agustus 2018, dari http//. Syahfitri, M. M. 2008. Analisa Unsur Hara Fosfor P pada Daun Kelapa Sawit Secara Spektrofotometri di Pusat Penelitian Kelapa Sawit PPKS Medan. Yuniati, S. 2014. Pengomposan Pelepah Daun Kelapa Sawit dengan Biodekomposer Berbeda serta Pemanfaatannya Sebagai Amelioran. Bogor Institut Pertanian Bogor. Ratih RahhutamiAline Sisi HandiniDwi AstutikAbstrakPemanfaatan limbah organik dari perkebunan sebagai media tanam pakcoy Brassica chinensis L. diharapkan dapat ditingkatkan dengan penggunaan pupuk organik serta pupuk hayati. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok RAK pola faktorial. Faktor pertama adalah dosis asam humat meliputi 1, 3, dan 5 g. Faktor kedua adalah dosis Trichoderma sp., meliputi 50, 100, dan 150 mL. Data yang diperoleh kemudian dianalisis ragam pada taraf nyata 5%. apabila terdapat pengaruh nyata, dilanjutkan dengan uji DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi asam humat dan Trichoderma sp. memiliki pengaruh mandiri dan tidak terdapat interaksi. Dosis asam humat 3 g per tanaman menghasilkan jumlah daun, panjang daun, tinggi tanaman, tinggi tanaman, bobot basah, dan bobot kering tanaman lebih tinggi dibanding dosis 1 dan 5 g. Perlakuan Trichoderma sp. dosis 50 mL per tanaman memiliki pengaruh lebih baik terhadap jumlah daun, panjang daun, tinggi tanaman, dan bobot basah Kunci hortikultura, jamur, morfologi, senyawa organik Abstract The utilization of organic farm estate as pakcoy Brassica chinensis L. growing media may improved by using biofertilizer and organic fertilizer. The research used factorial randomized block design. First factor was humic acid dosage, which included 1, 3, and 5 g of humic acid. Second factor was Trichoderma sp. dosage, which included 50, 100, and 150 mL of Trichoderma sp. Data were analyzed using ANOVA at 5% level, then continued by DMRT test. The results showed that the application of humic acid and Trichoderma sp. had single effects and there was no interaction. The dosage of humic acid 3 g per plant had higher number of leaves, leaf length, plant height, wet weight, and dry weight than other dosages. The treatment of Trichoderma sp. at dosage of 50 mL per plant had a better effect on the number of leaves, leaf length, plant height, and plant wet fungi, horticulture, morphology, organic compounds Sriatun SriatunSri HartutikTaslimah TaslimahPenelitian tentang pemanfaatan limbah distilasi bunga kenanga sebagai kompos dan pengaruh penambahan zeolit terhadap ketersediaan nitrogen di dalam tanah telah dilakukan. Pembuatan kompos dilakukan dengan metode penumpukan. Dilakukan tiga variasi perlakuan terhadap penyulingan limbah kenanga, yaitu 1 ditambahkan oleh EM4, 2 ditambahkan oleh EM4 dan serbuk gergaji 3 tanpa penambahan sebagai kontrol. Variabel fisik seperti suhu, bau dan warna divariasi pada saat proses pengomposan. Analisis kimia berupa rasio C/N dilakukan terhadap kompos yang telah matang. Setelah itu, kompos ditambahkan zeolit dengan variasi jumlah yaitu 2%, 4% dan 6% dari berat kompos, kemudian diberikan pada tanaman jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompos yang dibuat dari distilasi limbah bunga kenanga dan ditambah dengan EM4 yang mencapai suhu optimum pada suhu 39°C, siap dipanen setelah 21 hari dan memiliki rasio C/N sekitar 11,61. Sementara itu, kompos dengan penambahan EM4 dan serbuk gergaji dapat mencapai suhu optimum 45°C dan siap panen setelah 20 hari dan memiliki rasio C/N sekitar 43,81. Sedangkan kompos tanpa penambahan, suhu optimum tercapai pada suhu 37°C dan siap panen setelah 43 hari dengan rasio C/N sekitar 16,18. Penggunaan kompos yang ditambahkan zeolit pada tanaman jagung dapat meningkatkan laju nitrogen di tanah. Penambahan zeolit 2% meningkatkan nitrogen sebesar 0,96%, zeolit 4% equal to and zeolite 6% equal to Akhmad RizaliFachrianto FachriantoM. Hafiz AnsariAnis WahdiThe dependence on imports of feed ingredients for ration composer are increasingly expensive and availability of limited and unsustainable local feed, causing the low level of production and reproduction of local Indonesian cattle. This study aims to exploit the potential of plantation waste as an alternative feed of beef cattle, increase the nutrient value and digestibility of waste of palms and leaves and to know the optimal use of inoculums Trichoderma sp. through fermentation in improving the digestibility and nutritional value of the feed. The research method used was a complete randomized design RAL with five treatments and three replications, with 14 days fermentation. The research treatment includes PD 0 without Trichoderma/control, PD 1 fermentation using Trichoderma viride 3 ml, PD 2 fermentation using Trichoderma viride 6 ml, PD 3 fermentation using Trichoderma harzianum 3 ml, PD 4 fermentation using Trichoderma harzianum 6 ml.O Observation parameters observed included dry matter DM, crude protein CP, ash content AC, coarse fat CF, organic matter OM, and total digestible nutrient TDN. The data obtained were analyzed using variance analysis. The results showed that the best treatment was found in PD 1, had a significant effect on control in increasing total digestible nutrient TDN and crude fiber decline by although an increase in CP was not equal to the treatment of the PD 4 While the best increase of CP content was found in the treatment of PD 4 of While the best CP content found in the treatment of PD 4 of It was concluded that the use of Trichoderma viride and Trichoderma harzianum can improve the quality of waste nutrient and palm oil leaves by fermentation and the optimal inoculums dose used to produce the best fermentation is the use of Trichoderma sp. 3 ml in 3kg of Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pegaruh konsentrasi asam dan waktu hidrolisis terhadap kadar gula total serta kadar gula reduksi. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancang Acak Kelompok RAK faktorial 2 faktor yaitu konsentrasi H2SO4 dan lama waktu hidrolisis. Faktor pertama terdiri dari tiga level yaitu 0,4M, 0,6M dan 0,8M, sedangkan faktor kedua terdiri dari tiga level yaitu 60 menit, 80 menit dan 100 menit dari rancangan tersebut diperoleh sembilan kombinasi. Pada setiap kombinasi dilakukan tiga ulangan 27 sampel. Selanjutnya, dilakukan uji kadar gula total menggunakan refraktometer dan kadar gula reduksi menggunakan Nelson Somogyi. Data kemudian dianalisis menggunakan ANOVA dan uji DMRT 5%. Hasil pengamatan menunjukkan kandungan gula total tertinggi saat proses hidrolisis adalah perlakuan H2SO4 0,6M dengan waktu 100 menit yaitu 10,7%. Berdasarkan uji Anova dan DMRT5% bahwa kedua faktor perlakuan berpengaruh signifikan terhadap kadar gula dan berbeda nyata. Gula reduksi yang dihasilkan pada proses hidrolisis sebesar 19,29%. Dari bahan tersebut didapatkan etanol hasil fermentasi sebesar 4%. Kata kunci bioetanol, gula, hidrolisis, pelepah sawit Abstract The purpose of this research was to determine the effect of acid concentrations and hydrolysis time. Randomized Completely Block Design were arranged in a factorial with two factors H2SO4 concentrations were and hydrolysis time were 60 minutes, 80 minutes, 100 minutes. Each combination repeated three times. Samples were tested of total sugar content using refractometer and were tested of reducing sugar using Nelson Somogyi. Data were analyzed used two-ways ANOVA and conducted further test using the DMRT 5%. The result showed that the highest total sugar content is in the treatment of H2SO4 concentration and hydrolysis time 100 minutes. Based on ANOVA and DMRT test, all factors had significantly effect of the percentage of sugar. Beside that, in this research also have reduction sugar about from sugar content of result hydrolysis process. Pretreatment oil palm frond using H2SO4 was produced 4% etanol after fermentation. Keywords bioetanol, hydrolysis, oil palm frond, sugarTrichoderma spp. are free-living fungi that are common in soil and root ecosystems. Recent discoveries show that they are opportunistic, avirulent plant symbionts, as well as being parasites of other fungi. At least some strains establish robust and long-lasting colonizations of root surfaces and penetrate into the epidermis and a few cells below this level. They produce or release a variety of compounds that induce localized or systemic resistance responses, and this explains their lack of pathogenicity to plants. These root-microorganism associations cause substantial changes to the plant proteome and metabolism. Plants are protected from numerous classes of plant pathogen by responses that are similar to systemic acquired resistance and rhizobacteria-induced systemic resistance. Root colonization by Trichoderma spp. also frequently enhances root growth and development, crop productivity, resistance to abiotic stresses and the uptake and use of ArpinainiSumpono Sumpono Ridwan YahyaThis study aims to 1 determine the levels of the components of the Tenera variety of palm oil compounds including extractives, holocellulose, ? - cellulose, and lignin. 2 Analyze the utilization of the pulp of Tenera varieties as pulp raw materials based on their chemical components; 3 application of chemistry learning module to improving student learning outcomes. Determination of extractive substance content with TAPPI test methods Q 204; lignin content T 222; holocellulose Q 9 levels and ?-cellulose content with TAPPI test methods T 204. then lignin, holocellulose and ?-cellulose produced from the procedure were characterized by an IR spectrophotometer. The results of the study were module and implemented in ICHO students in SMAN 2 Kota Bengkulu. The data of the research results were analyzed by ANOVA test at 5% level. The results of the characterization of lignin, holocellulose and ?-cellulose with FTIR obtained a distinctive peak of the respective functional groups of the macromolecules. From the research also obtained the average value of chemical component content on the palm velvet varieties of tenera according to their part of base, middle, ends with mean for extractive substance 7,87%, 6,74%, lignin 20,7 %, holocellulose and ?- cellulose Based on the results of the variance analysis, the difference in position base, center, tip on the palm oil of the tenera varieties on extractive, lignin, holocellulose and ?-cellulose substances has significant differences. Based on the chemical component classification of Indonesian wide wood leaf, sheep betera varieties of tenera in all three positions are used as pulp raw materials because they have moderate lignin content, high levels of Holocellulose and moderate levels of ?-cellulose. The result of module implementation in students there is a significant difference between pretest and posttest value. The use of modules in learning in science groups can improve student learning KomarayatiKurnia SofyanThe development of paper and pulp industry cause waste handling problem. A kind of waste that needs serious attention is sludge. Sludge handling by burning causes air pollution problem, while land filling need much more infestations and areas. Therefore, composting believed as the most effective way to handle sludge. The objective of this research is to increase sludge product utility and to know quality of compost charcoal from sludge. The materials used are sludge from PT Indah Kiat Pulp and Paper Tangerang, Banten, saw dust, saw dust charcoal, and particular bio- activators called OrgaDec were used to stimulate the decomposition of those materials. The methods used are total carbon, nitrogen, phosphor P2O5, kalium K2O, magnesium MgO, cation exchange capacity CEC and total Calcium CaO. The best composting pH and temperature is treatment without charcoal addition. The treatment made pH and temperature goes down by charcoal addition. Analysis quality of compost charcoal show that charcoal addition will cause increasing of CEC and decreasing C/N Mastura Syahfitri09E00398 Telah dilakukan analisa unsur hara fosfor P pada daun kelapa sawit di Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan. Penentuan kadar fosfor P dalam daun kelapa sawit dilakukan dengan metode Spektrofotometri UV-Visible. Hasil analisa menunjukkan bahwa kadar fosfor yang diperoleh adalah 0,139% - 0,150% dalam daun kelapa sawit. Dari hasil ini menunjukkan bahwa kadar fosfor dalam daun kelapa sawit masih kurang, belum mencukupi standar yang telah ditentukan yaitu antara 0,16%-0,19%. Have been conducted by analysis element of hara phosphorus P at palm leaf in Indonesian Oil Palm Research Institute at Medan. Determination of phosphorus rate P in palm leaf conducted with method of Spektrofotometri UV-Visible. Result of analysis indicate that phosphorus rate the obtained is 0,139% - 0,150% in palm leaf. Of this result indicate that phosphorus rate in palm leaf still less, answer the demand of standard which have been determined by that is between 0,16%-0,19%. Drs. Firman Sebayang MSPemanfaatan limbah pelepah kelapa sawit untuk bahan dasar pembuatan produk fungsional bergaya etnik Dayak di Kalimantan Timur. Seminar Nasional Rekayasa Teknologi Industri dan InformasiD AndansariD CahyadiH A MarlangAndansari, D., Cahyadi, D. & Marlang, H. A. 2013. Pemanfaatan limbah pelepah kelapa sawit untuk bahan dasar pembuatan produk fungsional bergaya etnik Dayak di Kalimantan Timur. Seminar Nasional Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi pp. 44-49. Sekolah Tinggi Teknologi agen hayati Trichoderma dan bakteri pada pengomposan Ageratum conyzoides, Thitonia diversifolia Hemsley. A. Gray dan ampas tebuF AsyeeremAsyeerem, F. 2012. Pemanfaatan agen hayati Trichoderma dan bakteri pada pengomposan Ageratum conyzoides, Thitonia diversifolia Hemsley. A. Gray dan ampas tebu. Jurnal Agrotek 33, Field Document No 15. United Nations Food and Agriculture OrganizationA GaurGaur, A. 1980. A manual of Rural Composting. Project Field Document No 15. United Nations Food and Agriculture Organization.
Jakarta Jenis-jenis tanah sangat beragam dan berbeda-beda di tiap daerahnya. Indonesia merupakan salah satu contoh negara yang sangat kaya akan berbagai jenis tanah. Ada beragam jenis-jenis tanah dengan ciri khasnya sendiri. Tanah sendiri merupakan bagian kerak bumi yang tersusun dari bahan organik dan mineral. Tanah berperan penting bagi kehidupan makhluk hidup terutama tumbuh-tumbuhan. Tanah menyediakan air dan unsur hara yang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup tumbuhan. Selain tanaman, banyak spesies bergantung pada tanah sebagai habitatnya. 6 Jenis Sukulen yang Mudah Dirawat sebagai Tanaman Hias 12 Jenis Tumbuhan Hidroponik, Jangan Asal Pilih 5 Jenis Beras Sehat Pengganti Nasi Putih, Baik untuk Kesehatan Beragamnya jenis-jenis tanah tergantung proses pembentukan dan lokasi tanah itu sendiri. Tanah umumnya terbentuk dari bebatuan yang mengalami pelapukan. Proses pelapukan tersebut bisa berlangsung dalam waktu lama, bahkan ratusan tahun. Pelapukan batuan menjadi tanah juga dibantu beberapa mikroorganisme, perubahan suhu dan air. Jenis-jenis tanah di tiap daerah bisa berbeda, tergantung komponen yang ada di dalamnya. Komponen dalam tanah yang baik bagi tanaman biasanya terdiri dari mineral 50%, bahan organik 5% dan air 25%. Selain itu, letak astronomis dan geografis juga berperan penting dalam pembentukan tanah. Jadi, apa saja jenis-jenis tanah. Berikut ini telah merangkum dari berbagai sumber, apa saja jenis-jenis tanah disertai dengan penjelasan mengenai persebarannya, Senin 26/10/2020Pemandangan Gunung Singgalang dari Cadas Merapi foto akbarmuhibar1. Tanah Litosol Tanah litosol adalah jenis tanah yang baru mengalami perkembangan dan masih baru. Jenis tanah ini terbentuk dari perubahan iklim, topografi dan adanya vulkanisme. Untuk mengembangkan tanah ini diperlukan penanaman pohon agar mendapat mineral dan unsur hara yang cukup. Tekstur tanah litosol ada yang lembut, bebatuan bahkan berpasir. Biasanya salah satu dari jenis-jenis tanah ini bisa ditemui pada daerah dengan tingkat kecuraman tinggi. 2. Tanah Aluvial Salah satu dari jenis-jenis tanah yang umum ditemui yaitu tanah alluvial. Jenis tanah ini muncul akibat endapan lumpur yang terbawa aliran sungai. Tanah bisa ditemui di bagian hilir karena dibawa dari hulu. Warna tanah ini biasanya cokelat hingga abu-abu. Tanah ini sangat cocok bagi pertanian seperti padi, jagung, tembakau dan jenis tanaman lainnya. Hal tersebut karena tekstur tanahnya lembut dan mudah diolah, sehingga tidak butuh kerja keras untuk mencangkulnya. Di Indonesia sendiri, jenis tanah ini tersebar hampir dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, hingga Papua. 3. Tanah Andosol Jenis tanah andosol adalah salah satu jenis tanah vulkanik yang terbentuk karena proses vulkanisme gunung berapi. Salah satu jenis tanah ini sangat subur dan cocok untuk tanaman. Warna tanah andosol cokelat cenderung abu. Jenis tanah ini sangat kaya mineral, unsur hara, air, serta mineral. Itulah mengapa jenis tanah ini sangat baik untuk tanaman. Tapi memang, secara persebaran, tanah ini hanya terdapat di daerah yang dekat dengan gunung berapi, seperti daerah Jawa, Bali, Sumatera, dan Nusa TanahPohon Jati yang meranggas, menegaskan ketandusan tanah Blora ketika musim kemarau. foto / Edhie Prayitno Ige4. Tanah Entisol Jenis tanah ini adalah saudara dari tanah andosol, tapi berasal dari pelapukan material yang dikeluarkan letusan gunung berapi, seperti debu, pasir, lahar, dan lapili. Karakter tanah ini sangat subur. Namun, jenis tanah ini masih sangat muda dan bisa ditemukan tidak jauh dari area gunung berapi. Untuk persebarannya sendiri, tanah ini bisa ditemukan di daerah yang memiliki gunung berapi. 5. Tanah Humus Kemudian, jenis tanah humus yang terbentuk dari pelapukan tumbuhan. Tanah ini sangat banyak mengandung unsur hara dan mineral serta sangat subur. Itulah mengapa, jenis tanah ini sangat baik digunakan cocok tanam karena kandungannya sangat subur dan baik untuk tanaman. Tanah humus punya berbagai unsur hara dan mineral yang bersumber dari pelapukkan tumbuhan hingga warnanya cenderung kehitaman. Tanah ini bisa dengan mudah ditemui di daerah yang banyak hutan, seperti Sumatera, Kalimantan, Jawa, Papua, dan beberapa wilayah di Sulawesi. 6. Tanah Grumusol Tanah grumusol dibentuk dari pelapukan batuan kapur dan tuffa vulkanik. Tanah ini memiliki kandungan organik yang rendah, karena banyak unsur batuan kapur. Itulah mengapa tanah ini tidak subur dan kurang cocok sebagai lokas tanam. Dilihat dari karakter tanahnya, cenderung kering dan mudah pecah terutama, terutama saat musim kemarau serta punya warna hitam. Ph tanah ini netral hingga alkalis. Kemudian, tanah ini biasanya ada di permukaan yang tidak lebih dari 300 meter dari permukaan laut dan punya bentuk topografi datar hingga bergelombang. Tanah ini tersebar di daerah Jawa Tengah Demak, Jepara, Pati, Rembang, Jawa Timur Ngawi, Madiun, serta Nusa Tenggara Timur. Dikarenakan tanah ini punya tekstur yang kering, maka akan sangat bagus jika ditanami vegetasi kuat seperti kayu Tanah7. Tanah Inceptisol Selanjutnya, jenis tanah ini terbentuk dari batuan sedimen atau metamorf. Jenis tanah ini bisa menjadi dasar dalam pembentukan hutan yang asri. Karakter tanah ini yaitu adanya horizon kambik. Horizon ini kurang dari 25% dari horizon selanjutnya, dan hal tersebut yang menjadikan sangat unik. Lokasi dengan tanah jenis ini cocok sebagai perkebunan kelapa sawit atau karet. Jenis tanah ini tersebar di daerah Sumatera, Kalimantan, dan juga Papua. 8. Tanah Latosol Tanah latosol terbentuk dari pelapukan batuan sedimen dan metamorf. Ciri tanah latosol ada pada warnanya yang merah hingga kuning, teksturnya lempung serta memiliki solum horizon. Persebaran tanah litosol ada di daerah dengan curah hujan dan kelembapan yang tinggi, atau ada di 300-1000 meter dari permukaan laut. Sayangnya, jenis tanah latosol tidak terlalu subur, karena mengandung zat besi serta alumunium yang cukup tinggi. 9. Tanah Kapur Tanah kapur memang berasal dari batuan kapur yang mengalami pelapukan. Dengan begitu, tanah kapur sudah bisa disimpulkan jika memang tidak subur dan perlu dihindari untuk jenis tanaman yang butuh banyak air. Salah satu dari jenis-jenis tanah ini lebih cocok ditanami pohon jati dan jenis pohon keras lainnya. Jenis tanah kapur banyak tersebar di daerah Gunung Kidul Yogyakarta serta di daerah pegunungan kapur yang ada di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara TanahKondisi kanal di area konsesi perkebunan kelapa sawit di Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi. / Gresi Plasmanto10. Tanah Laterit Jenis-jenis tanah selanjutnya yaitu tanah laterit. Jenis tanah bewarna merah bata ini mengandung banyak zat besi dan alumunium. Di Indonesia, tanah ini cukup fimiliar di berbagai daerah, terutama daerah desa dan perkampungan. Tanah laterit termasuk dalam jenis tanah yang sudah berusia cukup tua, sehingga tidak cocok ditanami tumbuhan apapun. Selain itu kandungan yang ada di dalam tanah ini juga tidak cocok bagi tanaman. Tanah ini mudah ditemui di Kalimantan, Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Timur. 11. Tanah Podsol Di dalam tanah podsol, terdapat berbagai campuran tekstur mulai dari pasir hingga bebatuan kecil. Karakter tanah podsol antara lain tidak punya perkembangan profil, warnanya kuning dan punya tekstur pasir hingga lempung. Kandungan organic pada jenis tanah ini sangat rendah, sebab terbentuk dari curah hujan tinggi namun suhunya rendah. Biasanya jenis tanah ini ada di Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan juga Papua. Namun bisa juga ditemui di daerah lain yang selalu basah sepanjang tahun. 12. Tanah Organosol Tanah organosol dibentuk dari pelapukan benda organik seperti tumbuhan, gambut serta rawa. Biasanya tanah ini ada di iklim basah dan punya curah hujan tinggi. Ketebalan tanah ini rata-rata hanya mm dan punya diferensiasi horizon yang jelas. Selain itu, kandungan organik di dalam tanah organosol lebih dari 30% pada tanah yang teksturnya lempung, dan 20% pada tanah yang berpasir. Kandungan unsur hara tanah ini rendah dan punya tingkat kelembapan rendah Ph 0,4 saja. Untuk menemui jenis tanah ini, biasanya bisa ditemui di daerah pantai hampir di seluruh TanahIlustrasi jenis tanah Indonesia Sumber Pixabay13. Tanah Mergel Jenis tanah ini juga berasal dari kapur. Tapi dicampur dengan bahan lain dan bentuknya lebih mirip pasir. Tanah mergel dibentuk dari batuan kapur, pasir, serta tanah liat. Kemudian mengalami pembentukan dengan bantuan hujan tapi tidak merata. Jenis tanah ini cukup subur dan bisa ditanami beberapa jenis tanaman. Selain itu ada banyak mineral dan air di dalamnya. Biasanya tanah ini banyak terdapat di daerah dataran rendah, seperti Solo, Madiun, dan Kediri. 14. Tanah Oxisol Tanah oxisol adalah jenis tanah yang kaya zat besi dan alumunium oksida. Tanah jenis ini sering ditemui di daerah tropis dari desa hingga perkotaan. Karakter dari tanah ini antara lain memiliki solum yang dangkal dan ketebalannya kurang dari 1 meter. Warna tanah ini cenderung merah kekuningan dan punya tekstur halus seperti tanah liat. Tanah ini juga cocok dijadikan lahan perkebunan seperti tebu, nanas, pisang dan tumbuhan lainnya. 15. Tanah Liat Tanah ini terdiri dari campuran aluminium serta silikat yang punya diameter tidak lebih dari 4 mikrometer. Tanah liat dibentuk dari proses pelapukan batuan silika yang dilakukan asam karbonat dan sebagian diantaranya berasal dari aktivitas panas bumi. Jenis tanah ini tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia dan biasa digunakan untuk kerajinan. Itulah tadi beragam jenis-jenis tanah yang banyak tersebar di Indonesia. Berbagai jenis tanah tersebut setidaknya bisa menjadi bahan referensi yang tepat jika ingin mencoba bercocok tanam.* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
cara mendeteksi kandungan unsur hara dalam tanah